Pembuatan Jurnal Penyesuaian dan Neraca Lajur

Tahap pencatatan meliputi pencatatan transaksi dalam jurnal dan posting ke buku besar. Setelah posting ke buku besar selesai maka disusunlah neraca saldo. Karena neraca saldo belum memberikan informasi yang sebenarnya dan belum lengkap untuk semua akun maka perlu disesuaikan. Pada postingan sebelumnya telah dibahas tentang tahap pencatatan akuntansi dalam perusahaan dagang. Dalam postingan ini akan diuraikan tentang pembuatan jurnal penyesuaian dan neraca lajur.

1. Jurnal Penyesuaian
Setelah disusun neraca saldo, suatu perusahaan dagang perlu membuat jurnal penyesuaian. Mengapa harus disesuaikan? Hal ini dikarenakan neraca saldo belum memberikan informasi mengenai saldo yang sebenarnya dan belum lengkap untuk semua akun. Jurnal penyesuaian perlu dibuat agar akun-akun yang ada mencerminkan keadaan aktiva, kewajiban, beban, dan pendapatan serta modal yang sebenarnya. Jurnal penyesuaian terdiri atas dua bentuk seperti di bawah ini.

  • Jurnal penyesuaian untuk transaksi yang belum dicatat.
  • Jurnal penyesuaian untuk mengoreksi saldo akun yang sudah tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Dalam sebuah perusahaan dagang, jurnal penyesuaian yang biasanya dilakukan adalah:

  • pemakaian beban dibayar di muka;
  • pemakaian aktiva tetap;
  • pengakuan beban terutang; dan
  • penyesuaian persediaan.

a. Jurnal Penyesuaian untuk Pemakaian Beban Dibayar di Muka
1. Perlengkapan
a. Perlengkapan toko
Pada tanggal 31 Januari 2006 pemakaian perlengkapan toko selama bulan Januari 2006 sebesar Rp420.000,00. Neraca saldo PT Angkasa Raya pada tanggal 31 Januari 2006 menunjukkan bahwa saldo akun Perlengkapan Toko adalah Rp970.000,00. Saldo ini berasal dari nilai perlengkapan awal sebesar Rp900.000,00 ditambah dengan pembelian perlengkapan toko sebesar Rp70.000,00 pada bulan tersebut.

Tanggal 31 Januari perusahaan dagang menghitung nilai perlengkapan toko yang digunakan sebesar Rp420.000,00. Selisih antara saldo perlengkapan menurut neraca saldo dengan nilai perlengkapan yang dipakai adalah Rp550.000,00 (Rp970.000,00 – Rp420.000,00). Dengan demikian nilai sebesar Rp550.000,00 merupakan nilai perlengkapan toko yang sebenarnya. Sedangkan nilai Rp420.000,00 harus dicatat sebagai beban.

b. Perlengkapan kantor
Pada tanggal 31 Januari 2006 pemakaian perlengkapan kantor selama bulan Januari 2006 sebesar Rp200.000,00. Neraca saldo PT Angkasa Raya pada tanggal 31 Januari 2006 menunjukkan bahwa saldo akun Perlengkapan Kantor adalah Rp480.000,00. Saldo ini berasal dari nilai perlengkapan awal sebesar Rp400.000,00 ditambah dengan pembelian perlengkapan toko sebesar Rp80.000,00 pada bulan tersebut.

Tanggal 31 Januari PT Angkasa Raya menghitung nilai perlengkapan toko yang digunakan sebesar Rp200.000,00. Selisih antara saldo perlengkapan menurut neraca saldo dengan nilai perlengkapan yang dipakai adalah Rp280.000,00 (Rp480.000,00 – Rp200.000,00). Nilai sebesar Rp280.000,00 merupakan nilai perlengkapan toko yang sebenarnya. Sedangkan nilai Rp200.000,00 dicatat sebagai beban.

2. Asuransi Dibayar di Muka
Pada tanggal 31 Januari 2006 diperoleh informasi dari bagian pembukuan bahwa asuransi dibayar di muka yang telah menjadi beban bulan Januari 2006 sebesar Rp500.000,00. Beban tersebut dibebankan pada bagian penjualan Rp350.000,00 dan kepada bagian administrasi dan umum sebesar Rp150.000,00.

Jurnal penyesuaian untuk premi asuransi yang telah jatuh tempo tidak berbeda dengan jurnal penyesuaian untuk pemakaian perlengkapan. Saldo akun Asuransi Dibayar di Muka pada neraca saldo adalah jumlah premi asuransi yang belum jatuh tempo pada awal bulan ditambah dengan pembayaran premi yang dilakukan pada bulan Januari 2006.

b. Jurnal Penyesuaian untuk Aktiva Tetap
Pembebanan beban yang disebabkan oleh pemakaian aktiva tetap dicerminkan dalam penyusutan. Pada akhir periode akuntansi pembebanan beban penyusutan yang belum dicatat, akan mengakibatkan nilai akun aktiva tetap tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

c. Jurnal Penyesuaian untuk Beban Gaji
Upah dan gaji yang telah menjadi hak pegawai tetapi belum saatnya dibayar merupakan utang bagi perusahaan. Utang serta beban tersebut yang belum dicatat, sehingga perlu dibuatkan ayat jurnal penyesuaian.

d. Jurnal Penyesuaian untuk Persediaan
Persediaan barang dagang adalah stok barang yang masih ada yang belum terjual. Persediaan barang dagang dalam akuntansi dibedakan menjadi persediaan barang dagang awal dan persediaan barang dagang akhir. Pencatatan jurnal penyesuaian untuk persediaan pada perusahaan dagang tergantung pada sistem akuntansi persediaan yang digunakan. Berikut ini dua sistem akuntansi persediaan.

1. Sistem Persediaan Periodik (Phisik)
Menggunakan sistem periodik, jurnal penyesuaiannya dilakukan secara berkala biasanya pada akhir periode akuntansi. Ada dua pendekatan untuk mencatat jurnal penyesuaian barang dagang dengan sistem periodik yaitu: pendekatan ikhtisar laba-rugi dan pendekatan harga pokok penjualan.

2. Sistem Persediaan Perpetual
Jika menggunakan sistem persediaan perpetual maka jurnal penyesuaian dilakukan pada saat barang dagangan dibeli atau dijual. Pada materi ini kita menggunakan sistem persediaan periodik dengan pendekatan ikhtisar laba-rugi dan pendekatan harga pokok penjualan. Untuk memahami mengenai pencatatan penyesuaian persediaan baik menggunakan pendekatan ikhtisar laba-rugi maupun pendekatan harga pokok penjualan

Bentuk jurnal penyesuaiannya sebagai berikut.
1. Jurnal Penyesuaian dengan Pendekatan Ikhtisar Laba-Rugi
Apabila jurnal penyesuaiannya menggunakan pendekatan ikhtisar labarugi maka hanya menyesuaikan persediaan barang dagang pada awal dan akhir periode.

a. Persediaan barang dagang awal
Setiap akhir periode akuntansi, persediaan barang dagang awal disesuaikan dengan cara mendebit akun Ikhtisar Laba-Rugi dan mengkredit akun Persediaan Barang Dagang. Penyesuaian persediaan barang dagang awal dimaksudkan untuk memindahkan akun persediaan barang dagang awal dari akun riil menjadi akun Laba-Rugi dan juga untuk me-nol-kan akun Persediaan Barang Dagang awal. Saldo awal persediaan barang dagang harus dinolkan karena Persediaan Barang Dagang awal dianggap sudah terjual dan telah menjadi bagian dari harga pokok penjualan.

b. Persediaan barang dagang akhir
Penyesuaian persediaan barang dagang akhir pada akhir periode akuntansi dilakukan dengan mendebit akun Persediaan Barang Dagang dan mengkredit akun Ikhtisar Laba-Rugi. Maksudnya adalah memindahkan akun persediaan barang dagang akhir dari akun riil menjadi akun Laba-Rugi dan mengurangi harga pokok barang yang dijual. Selain itu juga untuk menampilkan persediaan barang dagang akhir di neraca karena barang tersebut masih ada.

2. Jurnal Penyesuaian dengan Pendekatan Harga Pokok Penjualan
Pencatatan persediaan barang dagang dengan pendekatan harga pokok penjualan (HPP) akan melibatkan akun-akun Persediaan Barang Dagang, akun Pembelian, akun Beban Angkut Pembelian, akun Retur Pembelian dan Pengurangan Harga, dan akun Potongan Pembelian.

2. Neraca Lajur
Setelah neraca saldo dan jurnal penyesuaian disusun maka langkah berikutnya adalah menyusun neraca lajur atau kertas kerja. Neraca lajur merupakan alat bantu untuk memudahkan menyusun laporan keuangan. Dalam neraca lajur terdiri atas kolom-kolom yaitu akun, nama akun, neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo disesuaikan, laporan laba-rugi, dan neraca.

0 Response to "Pembuatan Jurnal Penyesuaian dan Neraca Lajur"

Post a Comment